Archive for November, 2006

Monday, November 27th, 2006

ini sebuah catatan tentang seorang teman mengenai sahabatnya,aku ambil dari web zine lokal"RIPPLE".silakan dibaca,bagus loh,aku aja sampe terharu pas baca,enjoy it………

Endless Pain
Requiem For Scumbag

“Kemaren tuh saya udah punya firasat ga enak banget. ‘ga biasanya tiba-tiba pengen dengerin radio lalu tiba-tiba ada orang yang request lagunya Burgerkill. Dalam hati saya bilang, “dasar orang ‘ga tau diri. Tau engga sih dia kalo vokalisnya lagi sekarat di rumah sakit.”

Sepenggal kalimat itu meluncur dari mantan kekasihnya Ivan. Bersama suara yang terisak dan mata yang sembab. Satu hari menjelang Ivan meninggal. Dan dia bicara ketika jasad Ivan yang terbungkus kafan mulai diturunkan keliang kubur. Merengkuh takdir, dijemput oleh sebuah kehidupan yang entah seperti apa. Diiringi tatapan berkaca-kaca dan isak tertahan beberapa teman. Bersama doa-doa pengantar hidup selamat diakhirat kelak. Hari itu hari jumat tanggal 28 Juli 2006, tepat pukul sembilan pagi semua yang menghadiri pemakaman punya perasaan dan keresahan sendiri tentang dirimu.

Setelah terserang insomnia akut selama beberapa hari, jam enam pagi aku paksakan untuk segera ke rumah sakit. Setelah kemarin sore aku menerima kabar tentang kondisi terakhirmu. Beberapa buah apel kubawa sebagai bekal sarapan. Begitu sampai kutemui beberapa orang yang selalu setia menjaga Ivan. Kekasih Ivan dan adik-adiknya. Mengajak sarapan, apel dan kopi panas. Beberapa batang rokok. Pagi sangat cerah hari itu. Masih tertawa dan bercerita tentang beberapa memori kami bersama Ivan. Hingga tiba-tiba kami dipanggil perawat untuk segera menghadap dokter.

“Perlu saya jelaskan kondisi terakhir si Ivan. Kondisi otaknya sudah lumpuh alias nol persen. Semua sensor dan refleknya otomatis mati. Dia secara medis masih dinyatakan hidup karena fungsi jantungnya masih ada. Itu juga kerana dibantu oleh alat. Saya punya dua opsi dengan hasil yang sama. Pertama adalah semua alat bantu kehidupan si Ivan dicabut dan kemungkinan bertahan Ivan hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Opsi kedua adalah fungsi alat bantu tetap diteruskan dan Ivan akan bertahan selama beberapa hari.”

Kami semua diam tercekat. Waktu terasa berhenti membeku. Pilihan yang sama sekali bukan pilihan. Padahal baru saja dalam hitungan menit saya masuk ruang rawat Ivan. Memegang tangannya yang masih hangat. Berbisik ditelinga kirinya bahwa kamu bisa betahan dan bisa melanjutkan semua cita-cita yang sudah disusun. Diantara balutan infus dan alat bantu keidupan lainnya. Yang rapat mengepung posisi ranjang dimana selama dua hari ini kamu terbaring. Koma tanpa pernah sadar sama sekali. Hidup yang bergantung pada mesin penyuplai kehidupan sementara. Ingatanku bergerak cepat mundur kebelakang. Seperti rangkaian jet coaster dengan muatan setumpuk kenangan. Ingatan yang terasa dekat sekali. Ingatan lima belas tahun yang lalu. Dimana sedari kecil kita tumbuh dan membangun mimpi bersama.

Pribadi yang tertutup dan tidak banyak bicara. Kecuali saya mampu membuka topik bicara yang menurutmu menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah buku. Kamu adalah kutu buku. Mempunyai ketertarikan yang kuat terhadap buku terutama yang bertemakan humanisme dan sastra postmodernisme. Walau kita jarang bertemu karena kesibukan dengan band masing-masing, namun sekalinya ketemu kita pasti melakukan diskusi intens tentang berbagai buku yang baru saja kita baca. Saya kagum pada daya tangkap dan analisamu tentang persoalan yang muncul dalam diskusi kita. Terkadang kamu juga bicara masalah sudut pandang dalam proses pembuatan lirik dan interpretasinya. Walau bagi kebanyakan orang lirik yang dibuat olehmu tidaklah terlalu menyenangkan untuk dibuat ’soundtrack of life’. Lirik yang kelam, depresif dan cenderung menghujat diri sendiri. Bahwa semua masalah yang terjadi pada dunia dan lingkungan kamu jadikan sebagai masalah persoanal. Masalah yang dipersempit lalu bercermin pada dirimu sendiri. Tidak mencoba menyalahkan siapapun. Dan itu satu-satunya amunisimu dalam proses pembuatan lirik-lirik di Burgerkill. Walaupun saya selalu mengingatkanmu bahwa hal itu sangat riskan dan bukan cara pelepasan emosi yang sehat. Saya pernah masuk dalam fase seperti itu dan beberapa kali saya nyaris mati. Apalagi jika harus di stimulan oleh alkohol, ganja, dan obat-obat keras. Tapi itulah diri kamu yang bagaimanapun sudah membuat orang terinspirasi dan melakukan sesuatu terhadap hidupnya. Tergantung interpretasi mereka dari lirik yang kamu buat.

mengingatkanmu bahwa hal itu sangat riskan dan bukan cara pelepasan emosi yang sehat. Saya pernah masuk dalam fase seperti itu dan beberapa kali saya nyaris mati. Apalagi jika harus di stimulan oleh alkohol, ganja, dan obat-obat keras. Tapi itulah diri kamu yang bagaimanapun sudah membuat orang terinspirasi dan melakukan sesuatu terhadap hidupnya. Tergantung interpretasi mereka dari lirik yang kamu buat.

Kita sama-sama pernah terdampar dijalanan. Mencoba keluar dari realitas yang dirasa makin tidak mampu mewakili segala kehendak kita. Masalah dengan sekolah, llingkungan dan keluarga. Menciptakan dunia kita sendiri. Satu hal yang membuatku kagum padamu, bahwa ternyata kau sama sekali tidak mau merepotkan orang lain. Walau ternyata keputusan yang kau ambil itu malah bisa merepotkan semua orang juga. Lebih tepatnya membuat panik kita semua. Karena sebenarnya kami benar-benar peduli padamu. Pernah suatu waktu ketika anak-anak terlibat pertikaian dengan segerombolan preman Cicadas dan ternyata justru kamu yang tak tahu apa-apa harus menjadi korban. Diculik dan disekap setelah sebelumnya sepotong batu bata mendarat telak dan remuk dikepalamu. Dan kamu ternyata tenang saja. Walaupun sebagian muka kamu biru lebam. Maafkan kami bukan maksud kami untuk tidak menolongmu. Kamu hanya kebetulan saja ada di tempat dan waktu yang salah. Setelah melewati aksi kontra intelejen ala preman dan lobi-lobi di tingkatan preman yang lebih tinggi, akhirnya kamu berhasil dibebaskan. Sekali lagi kami minta maaf. Kami bangga karena kau begitu tenang dan berani. Dan kamu tidak mencoba menyalahkan siapapun.

Bahwa dulu ketika kita remaja pernah mempunyai mimpi dan harapan yang sama dengan kawan-kawan yang lain. Impian yang selalu indah dan penuh cita-cita mulia. Cita-cita tentang membangun sebuah perusahaan rekaman indie label. Gedung pencakar langit lengkap dengan landasan helikopter dan semua teman kita bekerja disana. Dalam ruangan teduh ber-ac dan istri kita menjadi sekretarisnya. Bahkan denah gambar hasil gambaranmu masih ada melekat di pintu kamarku. Berebut tempat dengan semua curhatmu ketika kau ditolak cinta pada masa SMA dulu. Yah, kau pernah ditolak cinta gara-gara secara ekonomi dinilai tidak mapan. Padahal kamu butuh keberanian yang sangat besar untuk bisa menyatakan cinta pada teman wanita SMA mu dulu. Setelah dibantu dengan beberapa butir obat keras. Biar pede, begitu alasanmu. Perempuan manis mirip Igor Cavalera drummer Sepultura. Kau kesal lalu menulis, “perangi buta huruf dan cewek matre”. Ada juga tulisanmu, “kejelekan adalah kegantengan yang tertunda”. Untuk yang satu ini saya tidak mengerti apa maksudnya. Padahal untuk ukuranku, kamu cukup ganteng. Tidak, tidak ganteng tapi eksotik. Lalu kita mencoba berkhayal tentang siapa diantara kita yang akan menikah pertama kali. Menimang bayi yang sudah memakai kaos band metal favorit. Mengajak keluarga kita menonton konser metal bareng-bareng. Tidak pernah kita membayangkan satu dari kita pergi meninggalkan duka. Kita lakukan itu sambil tiduran diatas genteng rumahku. Menatap langit gelap dan jutaan bintang bersinar. Kau menilai seperti itulah hidup ini. Gugusan bintang yang setiap malam mencoba bersinar terang agar dapat memberikan harapan bagi yang melihatnya. Lalu kita berteriak lantang, make a wish pada setiap bintang yang jatuh meluncur. Entah pada siapa.

Dari cerita-cerita teman main bandmu aku dapat menangkap kesan bahwa kau sangat menantikan semua ini terjadi. Hari-hari terakhir hidupmu dimana kau sama sekali tidak mau mengecewakan dan merepotkan mereka. Bahwa kau sebenarnya tidak mau menghancurkan segala impian mereka. Ketika rasa sakit yang selama ini menyerang kepalamu kau biarkan saja. Kau jadikan sakitmu itu sebagai inspirasi dalam membuat lirik. Menjadi stimulan demi sebuah proses kreatif yang menghasilkan karya yang jujur. Jujur. Memang seperti itulah keadaanmu yang sebenarnya. Semua orang boleh kagum padamu ketika kau berekspresi diatas panggung. Teriakan lantang menyapa penggemarmu. Bertelanjang dada dengan haisan tatto disetiap sudut tubuhmu yang ringkih. Lalu kau mulai menyanyi dengan semangat. Menjerit dan berteriak tentang semua keresahanmu. Melakukan headbanging nyaris tanpa jeda disetiap lagu yang kau nyanyikan.

Kenapa kamu rela seperti itu Van? Padahal aku tahu bahwa sebenarnya kamu sedang menahan sakit yang tidak dapat tergambarkan kecuali orang lain ikut merasakannya. Rasa sakit yang selama ini kau tahan agar orang lain tidak merasa kecewa terhadapmu. Ketika kau berteriak menyapa fans mu, pada saat yang sama juga semua saraf dipembuluh otakmu berkontraksi sehingga untuk beberapa saat otakmu terasa panas dan kesemutan. Lalu akibatnya suplai oksigen ke otak berhenti sesaat. Dan itu pasti sangatlah menyakitkan. Tak jarang kau pingsan dan kejang setelah selesai manggung. Rasa sakit yang selalu menghantuimu selama kurang lebih dua tahun kebelakang. Dan kamu nikmati semuanya. Kamu masih bisa tersenyum tiap kali kita berjumpa di backstage untuk sekedar menanyakan kabar dan berbagi rokok. Badan penuh keringat, sisa nafas yang tersengal. Namun matamu kosong menatap.

Hari kamis, tanggal 27 Juli 2006. Pukul sepuluh pagi di beranda RS Santo Yusuf keputusan yang berat terpaksa kami ambil. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter mengenai segala kemungkinan dan harapan. Bersama keluarga, kerabat dan teman-teman semua akhirnya memutuskan Ivan untuk dibawa pulang ke rumahnya di Rancaekek. Melepaskan semua beban derita dan kesakitan yang selama ini menjadi teman setianya. Memberikan jalan yang lapang bagi semua depresi dan kegalauan yang selama ini mennghantuinya. Tepat jam tiga sore ambulan sudah disiapkan dipintu keluar. Beberapa teman berdiri berjejer dengan raut muka yang nyaris sama. Kesedihan. Ketika kereta dorong yang membawa ragamu lewat perlahan.

Dan ternyata kau hanya mampu bertahan beberapa jam saja dirumah. Beberapa menit menjelang adzan magrib berkumandang kau lepas dari ragamu. Bersama doa-doa dan kerelaan yang tulus kami beri padamu sebagai bekal. Raga yang selama ini dipuja banyak orang. Menjadi inspirasi dan panutan. Raga yang selama ini kau pinjam untuk mengekspresikan semua keluh kesahmu. Kebebasan yang selama ini kau idamkan akhirnya tercapai sudah. Kebebasan yang disimbolkan bendera kuning yang tertancap berjajar disepanjang jalan menuju rumahmu. Kebebasan yang selama ini selalu menjadi perdebatan seru diantara kita. Diantara tangisan duka dan perasaan kehilangan yang mendalam diantara aku dan teman-temanku. Mengutip kata-kata teman saya, Ucok, “bahwa hidup tak perlu lama, tetapi ia harus dilewati sepenuh kita mampu.”

Dan kau membuktikannya seperti itu. Terima kasih atas darah, keringat dan air mata yang telah kita bagi bersama. We’re proud to you.. Kita akan berjumpa lagi di panggung konser yang berbeda. Secepatnya bro… Oh iya, bulan Desember tahun ini, Ivan berencana untuk menikah.Ugh…

*Sebenarnya saya menulis artikel ini beberapa bulan kebelakang sebagai bagian dari proyek saya untuk dokumentasi literasi kehidupan personal komunitas Homeless Crew Ujungberung. Dan kebetulan saya ingin membuat semacam biography-nya Ivan Scumbag. Ternyata proyek ini harus berakhir disini. Saya tak mau menjadikan teman saya sebagai komoditas dagang. Cukup dengan artikel ini saja. Cukup dengan kenangan kita masing-masing.